Dulu, kuhirup udara pagi yang begitu sejuk.
Tenang jiwa dan raga kurasakan menghampiriku.
Aku menghelai nafas panjang,
tuk kesegaran embun dipagi hari .
Helaian angin membuat hati terasa tenang,
Jiwa ini seakan-akan hanyut kurasa,
Saat aku merasakan dinginnya tetesan embun saat itu.
Disaat matahari mulai terbit ,
semua tetesan itu mulai berjatuhan ke tanah ,
dan akan sirna untuk sesaat hari itu.
Tenang jiwa dan raga kurasakan menghampiriku.
Aku menghelai nafas panjang,
tuk kesegaran embun dipagi hari .
Helaian angin membuat hati terasa tenang,
Jiwa ini seakan-akan hanyut kurasa,
Saat aku merasakan dinginnya tetesan embun saat itu.
Disaat matahari mulai terbit ,
semua tetesan itu mulai berjatuhan ke tanah ,
dan akan sirna untuk sesaat hari itu.
Pagi itu,
terik matahari kurasa memanjakanku.
memijat tubuhku dengan membakar kulit punggungku.
Sungguh indah alamku,
Sungguh kau sahabat terindahku,
Meberiku kenyamanan yang luar biasa nikmatnya.
memijat tubuhku dengan membakar kulit punggungku.
Sungguh indah alamku,
Sungguh kau sahabat terindahku,
Meberiku kenyamanan yang luar biasa nikmatnya.
Kuingin rasa
nyaman itu selalu menghampiriku setiap saat ,
Dan kuingin hawa itu selalu menemaniku disaat senja pagi tiba.
Dan kuingin hawa itu selalu menemaniku disaat senja pagi tiba.
Kini , Semua
itu mulai sirna.
Entah dosa apa yang kuperbuat sehingga alamku kini kian jadi sakit.
Mungkinkah alamku itu marah?
Munginkah dia tidak mau bersahabat lagi denganku?
Dan apa mungkin pagiku itu akan sirna?
Entah dosa apa yang kuperbuat sehingga alamku kini kian jadi sakit.
Mungkinkah alamku itu marah?
Munginkah dia tidak mau bersahabat lagi denganku?
Dan apa mungkin pagiku itu akan sirna?
Sampai kapan,
Sampai kapan
aku harus menunggu?,
Sampai kapan rindu ini akan berakhir?,
Sampai kapan alamku kembali sehat?,
Sahabatku itu kembali pulih,
Dan memberiku kesejukan seperti dulu lagi.
Sampai kapan rindu ini akan berakhir?,
Sampai kapan alamku kembali sehat?,
Sahabatku itu kembali pulih,
Dan memberiku kesejukan seperti dulu lagi.
Tuhan!
Aku hanya
bisa pasrah diri padamu,
Bersujud memohon ampun padamu,
Ampuni dosa hambamu ini,
Kiranya tuhan menyembuhkan sahabatku itu.
Bersujud memohon ampun padamu,
Ampuni dosa hambamu ini,
Kiranya tuhan menyembuhkan sahabatku itu.
Tuhan!
Aku rindu
sejuknya pagi,
Rindu terik matahari membakar kulitku ini,
Rindu akan petang yang indah bila dipandang,
Aku rindu semua itu tanpa terkecuali.
Rindu terik matahari membakar kulitku ini,
Rindu akan petang yang indah bila dipandang,
Aku rindu semua itu tanpa terkecuali.
Alamku ,
Sahabatku
Aku hanya bisa menunggu dan berdoa pada sang pencipta .
Kiranya,sang pencipta lah yang menjadi medis buat penyembuhanmu saat ini.
Tak satu pun hal yang dapat kulakukan untukmu,
Selain menunggumu pulih lagi.
Aku hanya bisa menunggu dan berdoa pada sang pencipta .
Kiranya,sang pencipta lah yang menjadi medis buat penyembuhanmu saat ini.
Tak satu pun hal yang dapat kulakukan untukmu,
Selain menunggumu pulih lagi.
Cepat sembuh
sahabatku , aku rindu padamu.
Puisi diatas
merupakan karangan nyata sang Penulis untuk keadaan bumi sekarang yang kian
menghadapi penyakit virus Covid-19. Penulis menggambarkan sesuatu aktivitas
yang kian mengarah pada alam. Dengan setulus hati penulis mengucapkan selamat
menjalankan ibadah puasa bagi umat Muslim “MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN” dan Penulis
dengan besar harapannya meminta kepada Pembaca artikel puisi ini semoga Covid-19
ini cepat berlalu dari Bumi pertiwi yang kita cintai ini. Dan semoga kedepannya
kita dapat merubah sikap buruk yang selama ini kita lakukan pada alam.Marilah
saling bahu-membahu untuk melestarikan dan merawat alam kita ini dengan sepenuh
hati dan jiwa kita supaya segala penyakit sejenis Covid-19 ini tidak terulang
kedua kali lagi.







